Blog Kena

 
Hiduplah demokrasi (bagian ke-1) Kasus Minangkabau.
16. Februari 2012 - 13:51 | by Ken Aulia

Hiduplah demokrasi (bagian ke-1) Kasus Minangkabau.

Apakah benar demokrasi menjadi penyebab kekeacauan di Indonesia? Ataukah
benarkah demokrasi bukan merupakan budaya kita?

Saya rasa tdk demikian.

Soal budaya nusantara meskipun tidak semua suku bangsa memiliki sifat
demokratis, tapi ada beberapa yang sudah terkenal dengan sifat egaliter dan
demokratisnya sejak dahulu, misalkan budaya minangkabau.

Dlam budaya minang keputusan2 diambil secara desentralistis dan kemufakatan.

Dalam sejarah masyarakat minang ada kerajaan, mis. pagaruyung, tapi kekuasaan
riil ada ditangan nagari (mungkin setara dengan provinsi). Konsep yang sama mirp
dengan struktur masyarakat jerman secara berabad2 (the holy roman empire).

Ada pepatah: "duduk samo rendah, tagak samo tinggi.

Ini pendidikan dasar soal hak azazi manusia. Semua manusia sederajat, tidak ada
yang diistimewakan.

Sebelum kita cerita tentang sifat buruk pemimpin apakah kita sendiri sudah jadi
pemimpin yang baik. Apakah pembantu kita (buat yang punya PRT)sudah dikasih
libur di akhir pekan? Kerja tdk lebih dari 8 jam sehari dsb.

Dlm soal pendidikan misalnya, Univ Bung Hata meskipun swasta ngak kalah sama
Univ Andalas yang negeri. Krn masyarakat dan pemerintah minang tidak menganak
emaskan Andalas secara berlebihan (sama rendah dan tinggi). Berbeda dengan
penganak emasan pemerintah pusat pada UI dan ITB. Jadi tidak ada sekolah elit
dsb. Semua berhak untuk mendapat perhatian yang sama.

Selain itu ada pepatah: "ditinggikan seranting didahulukan selangkah".

Pemimpin itu sedikit saja ditinggikannya. Meskipun dipatuhi tapi tidak sampai
dipuja-puja. Kalau pemimpin macem2 bakalan cepat dijewer oleh rakyatnya. Oleh
karena itu para pemimpinya tidak jauh dari rakyat. Setidaknya jaman dulu, ngak
ada tuh pemimpin2 minang duduk diatas singgasana mewah dimana rakyat jelata
kelaparan. Apalagi pake singgasana (kursi) impor ;)

Masih dalam soal hubungan pemimpin dan rakyat:

"Raja alim raja disembah raja lalim raja disanggah".

Pelaksanaan demokrasi:

Wali nagari dipilih langsung oleh rakyat. Sekarang di Indonesia berbentuk
pilkada. Kalau di minangkabau pemilihan ini bisa tenang, kenapa di Indonesia
kadang2 bergejolak?

Sayangnya meskipun pelaksanaan demokrasi (masa lalu) di minang dapat menjadi
model yang baik bagi negara kita. Peristiwa PRRI dan terutama pemerintah Orde
Baru telah mengurangi secara besar2an salah satu fondasi sistem nusantara yang
merupakan harta warisan bangsa kita ini.

Semua sistem demokasi tadi dibuat menjadi sentralistik dengan kelolaan militer
yang merupakan kepanjangan kekuasaan pusat.

- Tamat bagian 1 -